Jumat, 04 September 2009

Pengantar Sosiolinguistik

Pengantar Sosiolinguistik




Oleh
Muhamad Nasir
NIM 20076011041




Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Sosiolinguistik
Dosen Pengasuh
Dr. Hj. Ratu Wardarita, M.Pd
Dra. Hj. Siti Rukiah, M.Pd.









PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA
BKU PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG
2008






1. Pendahuluan

Nababan (1994:1) mengemukakan dari dulu sudah disadari bahwa bahasa adalah suatu lembaga kemasyarakat (de Saussure, 1916) sebagaimana halnya perkawinan, pewarisan harta, dan sebagainya. Dalam bahasa ada dimensi kemasyarakatan yang memberikan makna kepada bahasa. Dan lebih lanjut dikemukakannya, “Dimensi kemasyarakatan ini menimbulkan ragam-ragam bahasa yang bukan hanya berfungsi sebagai penunjuk perbedaan golongan kemasyarakatan penuturnya, tetapi juga sebagai indikasi situasi berbahasa serta mencerminkan tujuan, topic, aturan-aturan dan modus penggunaan bahasa,”

Hal senada diungkapkan Paul (2002:2) bahwa kehidupan manusia normal tidak dapat dipisahkan dari bahasa. “Bahasa menyerap masuk ke dalam pemikiran, menjembatani hubungan kita dengan yang lain, bahkan menyelinap masuk dalam mimpi. Perangkat pengetahuan manusia pun yang demikian banyak juga tersimpan dan disebarluaskan melalui bahasa.”

Dengan demikian, antara bahasa dan masyarakat tidak dapat dilepaskan begitu saja. Karena itu, kemudian lahirlah sosiolunguistik. Merupakan ilmu yang bersifat interdispliner. Menurut Paul (2002:9) gabungan dari sosio (logi) dan lingusitik.

Apa dan bagaimana sesungguhnya sosiolinguistik itu, akan dibahas dalam makalah ini secara terperinci.

Adapun pembahasan yang akan dipaparkan meliputi pemahaman tentang bahasa, variasi bahasa, hubungan antara bahasa dan masyarakat, sosiolinguistik dan sosiologi bahasa, serta pendekatan penelitian sosiolingustik.

2. Pembahasan
2.1 Pemahaman tentang Bahasa

Bahasa adalah sistem lambang bunyi bahasa yang arbitrer yang digunakan masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri (Harimurti Kridalaksana, 1993:21). Bahasa ini dapat
dikaji dari berbagai sudut pandang dan perhatian khusus pada unsur bahasa yang berbeda-beda seperti struktur intern bahasa dikaji dalam linguistik, dengan kajian mendalam pada unsur fonem atau bunyi bahasa disebut fonologi, morfologi mempelajari struktur intern bentuk-bentuk kata, sintaksis
mengkaji hubungan antarbentuk kata dalam tataran kalimat, dan lainnya.

Namun kajian bahasa secara intrinsik ini tidak mampu mengungkap fenomena bahasa secara seutuhnya. Seperti misalnya dimensi kemasyarakatan bahasa yang tidak “tampak” dalam struktur bahasa. Pengkajian bahasa dengan mempertimbangkan dimensi kemasyarakatan ini
yang disebut sosiolinguistik.

Bahasa adalah salah satu ciri yang laing khas manusiawi yang membedakannya dari makhkluk yang lain. ”Ilmu yang mempelajari hakikat dan ciri-ciri bahasa disebut ilmu linguistik. Linguistklah yang mengkaji unsur-unsur bahasa serta hubungan-hubungan unsur itu dalam memenuhi fungsinya sebagai alat perhubungan antarmanusia. (Nababan,1994:1)

Bahasa ini dapat dikaji dari berbagai sudut dan memberikan perhatian khusus pada unsur-unsur bahasa yang berbeda-beda dan pada hubungan-hubungan yang berbeda-beda pula. Dengan begitu lahir beberapa cabang ilmu linguistik, antara lain : fonologi yang mempelajari bunyi bahasa; morfologi yang mempelajari bentuk-bentuk kata; sintaksis yang mengkaji Penggabungan kata-kata menjadi kalimat yang berbeda-beda; tipologi bhasa yang mempelajari persamaan dan perbedaan antara bahasa; linguistik historis yang mempelajari perubahan yang terdapat dalam bahasa sesuai perjalanan waktu.

Dalam buku Sign, Language and Behavior (1946) (dalam Nababan, 1994:2) Charles Morris membedakanb tiga macam studi bahasa yang dianggapsuatu system semiotic (perisyaratan), bergantung dari apa yang menjadi pusat perhatian.

Jika yang diperhatikan ialah hubungan antara isyarat-isyarat ( unsur bahasa) dengan maknanya, disebut semantik. Jika yang perhatian ditumpukan pada hubungan isyarat dengan isyarat disebut sintaktis, atau oleh para pakar bahasa disebut linguistik. Jika pusat perhatian ialah hubungan antara isyarat dengan pemakainya (penutur bahasa) disebut pragmatik.

Pragmatik inilah yang kemudian disebut sosiolinguistik. Khususnya yang mempelajari aspek-aspek sosial dari pemakaianya dan aturan pemakaiannya.

Paul Ohoiwutun (2002:10) secara lebih jelas membagi linguistik itu dalam dua bagian besar. Yang pertama mikrolinguistik, mempelajari bahasa secara internal, dari dalam sistem bahasa itu sendiri. Lalu makrolinguistik, menganalisis bahasa dalam hubungannya dengan faktor-faktror eksternal, di luar sistem bahasa



Lebih jelasnya, Harimurti Kridalaksana menggambarkan pembidangan lingustik sebagai berikut:
I. Mikrolinguistik
Bidang Teoritis Bidang interdisipliner
Umum: - fonetik - stilistika
(1) teori linguistik - filsafat bahasa
(2) linguistik desktiptif - psikolinguistik
(3) linguistik historis komparatif - sosiolinguistik
- filologi
Untuk bahasa tertentu: - semiotika
(1) lingusitik deskriptif - dan lain-lain
(2) linguistik historis komparatif


Bidang Terapan:
- pengajaran bahasa
- penerjemahan
- leksikografi
- fonetik terapan
- pembinaan bahasa
- dan lain-lain
II. Makrolinguistik


2.2 Variasi Bahasa
Variasi bahasa adalah suatu wujud perubahan atau perbedaan dari pelabagai manifestasi kebahasaan namun tidak bertentangan dengan kaidah kebahasaan. (Paul, 2002:46).

Contoh beberapa variasi bahasa, diantaranya variasi morfofonemis. Bahwa dalam penggunaan bahasa ada tiga variasi morfer /ber-/ , ber-, ber-, dan bel- saat digabungkan dengan bentuk dasar. Menjadi ber bila kata dasarnya kata, menjadi berkata. Menjadi be- bila kata dasarnya renang, menjadi berenang, lalu menjadi bel- bila kata dasarnya ajar, menjadi belajar.

Ada juga variasi pragmatik, misalnya dalam konteks, seorang pemilik mobil menegur sopirnya yang memacu kijang tua di tol dengan kecepatan 120 km/jam.

Pemilik mobil : Mas, coba lihat papan di depan!
Sopir : Baik, pak (serta merta kecepatan kendaraan diturunkan menjadi hanya 90 km/jam).

Atau contoh lain, pemilik mobil menyapa sopirnya dengan sebut Mas. Dia seolahn merendahkan diri dengan harapan sopir dapat melaksanakan keinginannya tanpa merasa terpaksa.

Secara umum, variasi bahasa menurut Paul terbagi dua, yakni variasi sistemik dan variasi ekstrasistemik.

2.2.1 Variasi Sistemik
Variasi sistemik disebut juga variasi internal, karena hanya terjadi lingkup unsur-unsur kebahasaan itu sendiri, misalnya pada unsur fonem, morfem, tata kalimat, dan sebagainya.
Perubahan morfer ber- menjadi bel-, ber-, dan be, merupakan salah satu contoh variasi sitemik. Sama seperti perubahan morfem meN- menjadi menge-, meng-, meny, men-, dan mem-.

2.2.2 Variasi Ekstrasistemik
Variasi ekstrasistemik menurut Paul (2002:49) adalah perubahan yang bersumber dari luar sistem bahasa. Disebut juga variasi eksternal. Variasi ini terjadi karena berbagai faktor, seperti keadaan geografis, konteks sosial, fungsi atau tujuan komunikasi dan faktor perkembangan bahasa dalam kurun waktu yang lama.

Faktor geografis, misalnya karena rintangan geografis seperti gunung, sungai selat dan sejenisnya bahasa yang tadinya merupakan alat komunikasi yang seragam antarkelompok mengalami perubahan karena perindahan dari suatu lokasi ke lokasi yang lain. Disebut juga dialek. Bahasa orang yang tinggal di lampung, berbeda dengan bahasa warga Jakarta. Atau orang Jawa menggunakan bahasa Palembang.

Kedudukan sosial, dikenal pada bahasa Jawa seperti hasil penelitian C. Geertz dalam J.B. Price and Janet Holmes, ada tidak ragam. Pertama, penutur bukan priyayi namun cukup terpelajar dan tinggal di kota. Kedua, ragam yang dipakai para petani atau warga kota yang bukan terpelajar, dan ketiga ragam yang lazim dituturkan kaum priyayi.

Situasi berbahasa, disebut juga fungsiolek. Kalau perbedaan kedudukan sosial menimbulkan sosiolek, maka perbedaan situasi dan dengan siapa dan dalam konteks apa menimbulkan fungsiolek. Dikenal lima tingkat ragam bahasa, beku (froren), resmi (formal), usaha (consultative), santai (casual), dan akrab (intimate).
Perubahan karena berlalunya waktu, terlihat perbedaan pada masa 1939 prakemerdekaan, 145 awal kemerdekaan, dan 1995 masa orde baru. Perubahan dalam ejaan, seleksi kata, makna kata dan frase.

2.3 Bahasa dan Masyarakat
2.3.1 Pengelompokan Bahasa di Dunia
Tak dapat dipungkiri, bahasa dan masyarakat saling mempengaruhi. Terlihat dari pengelompokan bahasa di dunia pada awalnya hanya terdapat satu bahasa moyang atau maksimum lima bahasa utama. Perkembangan dan perubahan kehidupan sosial manusia, gaya dan selera berbahasa, perpindahan penduduk serta rintangan-rintangan alam dan geografis mendorong lahirnya dialek dan terjadinya penyimpangan-penyimpangan bahasa yang pada gilirannya memunculkan bahasa baru.

Menurut Paul (2002:34) kenyataan bahwa semua bahasa bisa dipelajari oleh manusia dapat dijadikan bukti bahwa pada dasarnya prinsip-prinsip paling dasar dan universal dari bahasa terdiri dari hanya satu perangkat gabungan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki setiap makhluk manusia sejak awal keberadaannya.

Dikenal ada lima rumpun bahasa utama di dunia yakni, Proto Indo-Eropa, Eurasia, Pasifik, Afrika dan Amerika (Indian)
2.3.1.1 Rumpun Indo Eropa
Terdiri dari dari sepuluh rumpun, yakni Anatolia, Tokharia, Albania, Armenia, Germania, Italia, Keltik, Yunani, Balto-Slavia, dan Indo-Irania.

2.3.1.2 Rumpun Non Indo-Eropa
Di kawasan Eropa, selain rumpun bahasa Indo Eropa terdapat kelompok Basque yang digunakan di daerah Pirenea serta kelompoka Finno-Urgik.

2.3.1.3 Pasifik
Bahasa do Pasifik umumnya terbagi atas empat kelompok. Pertama, kelompok bahasa Aborigin Australia. Kelompok kedua, bahasa-bahsa Tasmania yang sudah punah. Ketiga adalah kelompok bahasa di daerah Pulau Papua serta pulau-pulau kecil di sekitarnya.
Kelompok keempat adalah yang terbesar dinamai Pasifik disebur Melayu Polinesia. Kelompok ini terbagi lagi atas tiga subkelompok yakni: Indonesia, Melanesia dan Polinesia.

2.3.1.4 Afrika
Di Afrika, terbagi dua kelompok. Pertama, bahasa Afro-Asiatik, terdiri dari lima cabang bahasa yakni Semitik, Mesir, Berber, Kushtik, dan Chad.
Kelompok kedua, Congo-Niger di sebagian besar Afrika bagian selatan, dengan cabang utama bahasa Bantu.
Diantara kelompok Afro-Asiatik dan Congo-Niger ditemukan tiga kelompok lainnya, yakni Chari-Nil, Songhai, dan Sahara Tengah.

2.3.1.5 Amerika (Indian)
Di Amerika Selatan dikenal bahasa Quechua di Peru. Juga Chibcha, Huelche, Kariba, Pano, Jivaro, Tukano, Arawaka, dan Tupi-Guarani.
Di Amerika tengah, ada bahasa Maya dan Otomangia. Lalu di Amerika Utara ada bahasa Aleut Eskimo. Dua kelompok lainnya, Athabaska dan Algonkia.


2.3.2 Komunitas Bahasa
Paul (2002:38) mengungkapkan ada tiga pendekatan dalam memahami komunitas bahasa. Pertama dipandang dari segi bentuk bahasa yang dimiliki bersama. Kedua dari segi kaidah-kaidah yang mengatur sistem bahasa yang dimiliki, dan ketiga dari sudut pandang konsep kebudayaan yang dianut bersama.
Bahasa lah yang menjadikan suatu masyarakat menjadi sentripetal, artinya bahasa cenderung mengabsorbsi masyarakat menjadi satu kesatuan. Kesatuan masyarakat karena menganut norma-norma linguistik yang sama inilah yang disebut komunitas bahasa.
,
2.4 Sosiolinguistik dan Sosiologi Bahasa
2.4.1 Definisi
Berikut ini dikemukakan beberapa definisi sosiolinguistik. J.A. Fishman (dalam Suwito, 1985: 5) mendefinisikan sosiolinguistik dengan sebutan sosiologi bahasa. Kajian sistem bahasa yangn bahasa sebagai gejala sosial yang mempengaruhi pemakaian bahasa dengan faktor sosial, seperti status sosial, tingkat pendidikan, umur, jenis kelamin, tingkat ekonomi dan faktor situasional, yaitu siapa berbicara, dengan bahasa apa, kepada siapa, kapan, di mana, dan mengenai masalah apa atau dirumuskan secara singkat dengan who speak, what language, to whom, and when.

Secara eksplisit Fishman mendefinisikan sosiolinguistik sebagai studi tentang katakteristik variasi bahasa, karakteristik fungsi bahasa, dan karakteristik pemakaian bahasa yang terjalin dalam interaksi, sehingga menyebabkan perubahan-perubahan antara ketiganya di dalam masyarakat tuturnya.

Rene Appel (dalam Suwito, 1985:5) mengungkapkan bahawa sosiolinguistik menempatkan kedudukan bahasa dalam hubungannya dengan pemakaiannya dalam masyarakat, sehingga bahasa dipandang sebagai sistem sosial dan sistem komunikasi, serta merupakan bagian
dari masyarakat dan kebudayaan tertentu. Pemakaian bahasa (language use) merupakan bentuk interaksi sosial yang terjadi dalam situasi konkret.

Rumusan sosiolinguistik menurut Appel adalah studi tentang bahasa dan pemakaian bahasa dalam hubungannya denganmasyarakat dan kebudayaan.
Dell Hymes (dalam Rusyana, 1988 : 7) yang menitikberatkan kajian sosiolinguistik pada segi penggunaan bahasa dengan rumusan kemungkinan pemakaian data dan analisis linguistik dalam disiplin lain yang berhubungan dengan kehidupan sosial, dan sebaliknya, pemakaian data dan analisis sosial dalam linguistik.

Abdul Chaer dan Agustina (1995:3) merumuskan sosiolinguistik sebagai gabungan dari kata sosiologi dan linguistik. Sosiologi adalah kajian yang objektif dan ilmiah mengenai manusia dalam masyarakat
dan mengenai lembaga-lembaga, serta proses sosial yang ada di dalam masyarakat. Linguistik adalah ilmu bahasa atau kajian tentang bahasa, sehingga sosiolinguistik merupakan bidang ilmu antardisiplin yang mempelajari bahasa di dalam masyarakat.

Tarigan (1989:7) merangkum semua pendapat tentang sosiolinguistik sebagai cabang linguistik yang memandang atau menempatkan kedudukan bahasa dalam hubungannya dengan pemakai bahasa di dalam masyarakat, karena dalam kehidupan bermasyarakat manusia tidak lagi sebagai individu melainkan sebagai masyarakat sosial. Oleh karena itu, segala sesuatu yang dilakukan manusia dalam bertutur akan selalu dipengaruhi oleh situasi dan kondisi di sekitarnya.

2.4.2 Kedudukan Sosiolinguistik
Seperti telah disinggung di atas linguistik adalah cabang ilmu yang mempelajari struktur intern bahasa, atau disebut linguistik mikro, dengan cabang-cabangnya, yaitu fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Kajian struktur bahasa yang melibatkan untuk di luar bahasa (struktur ekstern
bahasa) disebut linguistik makro. Bidang kajian linguistik makro dibagi ke dalam dua bidang, yaitu interdispliner, yaitu kajian ilmu bahasa dengan ilmu lain atau studi antarlimu, dan terapan, yaitu kajian atau hasil kajian bahasa yang digunakan untuk memecahkan masalah-masalah praktis.

Yang tergolong dalam bidang interdisipliner antara lain fonetik (linguistik dan fisika), filsafat
bahasa (filsafat dan bahasa), sosiolinguistik (sosiologi dan linguistik), psikolinguistik (psikologi dan linguistik), dan etnolinguistik (etnologi dan linguistik). Yang termasuk dalam bidang terapan antara lain pengajaran bahasa (kajian linguistik digunakan untuk memecahkan masalah belajar atau
penguasaan bahasa), penerjemahan (kajian linguistik digunakan untuk memecahkan masalah alih bahasa), dan leksikografi (hasil kajian bahasa digunakan untuk menyusun kamus).

Dengan demikian jelas bahwa sosiolinguistik merupakan kajian linguistik makro dan bersifat interdisipliner, merupakan studi antarilmu sosiologi dan linguistik.

2.3 Penutup
Dari paparan di atas dapat disimpulkan beberapa hal. Pertama, linguistik itu dalam dua bagian besar. Yang pertama mikrolinguistik, mempelajari bahasa secara internal, dari dalam sistem bahasa itu sendiri. Lalu makrolinguistik, menganalisis bahasa dalam hubungannya dengan faktor-faktror eksternal, di luar sistem bahasa

Variasi bahasa itu terbagi dua, yakni variasi sistemik dan variasi ekstrasistemik. Variasi sistemik disebut juga variasi internal, karena hanya terjadi lingkup unsur-unsur kebahasaan itu sendiri, misalnya pada unsur fonem, morfem, tata kalimat, dan sebagainya. Sementara variasi ekstrasistemik, perubahan yang bersumber dari luar sistem bahasa. Disebut juga variasi eksternal. Variasi ini terjadi karena berbagai faktor, seperti keadaan geografis, konteks sosial, fungsi atau tujuan komunikasi dan faktor perkembangan bahasa dalam kurun waktu yang lama.

Perkembangan dan perubahan kehidupan sosial manusia, gaya dan selera berbahasa, perpindahan penduduk serta rintangan-rintangan alam dan geografis mendorong lahirnya dialek dan terjadinya penyimpangan-penyimpangan bahasa yang pada gilirannya memunculkan bahasa baru. Hal ini membuat adanya rumpun bahsa utama di dunia dan terjadinya komunitas bahasa.

Sosiolinguistik disebut juga dengan sebutan sosiologi bahasa. Kajian sistem bahasa sebagai gejala sosial yang mempengaruhi pemakaian bahasa dengan faktor sosial, seperti status sosial, tingkat pendidikan, umur, jenis kelamin, tingkat ekonomi dan faktor situasional, yaitu siapa berbicara, dengan bahasa apa, kepada siapa, kapan, di mana, dan mengenai masalah apa atau dirumuskan secara singkat dengan who speak, what language, to whom, and when.




Daftar Pustaka

Chaer, Abdul dan Agustina. 1995. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta.

Nababan, P.W.J. 1994. Sosiolinguistik: Suatu Pengantar. Gramedia: Jakarta.

Ohoiwutun, Paul. 2002. Sosiolinguistik: Memahami bahasa dalam Konteks Masyarakat dan Kebudayaan. Kesaint Blanc: Jakarta.


Rusyana, Yus. 1988. Perihal Kedwibahasaan (Bilingualisme). Jakarta: Depdikbud, Dirjen Dikti, P2LPTK.

Tarigan, Henry Guntur. 1989. Pengajaran Kedwibahasaan Suatu Penelitian Kepustakaan. Jakarta: Depdikbud: Dirjen Dikti, P2LPTK.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar