Jumat, 04 September 2009

Kerjasama, kesopanan dan Parameter Pragmatik

Prinsip Kerjasama, Kesopanan, dan Parameter Pragmatik







Oleh
Muhamad Nasir
NIM 20076011041




Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Analisis Wacana
Dosen Pengasuh
Dr. Ratu Wardarita, M.Pd.







PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA
BKU PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG
2008
DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL .......................................................................................... I
DAFTAR ISI ........................................................................................................... II


1. Pendahuluan ..................................................................................................... 1
2. Prinsip Kerjasama ............................................................................................. 2
2.1 Maksim Kuantitas .......................................................................................... 2
2.2 Maksim Kualitas ............................................................................................ 3
2.3 Maksim Relevansi .......................................................................................... 4
2.4 Maksim Pelaksanaan ...................................................................................... 5
3. Prinsip Kesopanan ............................................................................................ 6
3.1 Maksim Berskala Dua Kutub ........................................................................ 7
3.1.1 Maksim Kebijaksanaan .............................................................................. 7
3.1.2 Maksim Penerimaan .................................................................................... 8
3.1.3 Maksim Kemurahan ................................................................................... 8
3.1.4 Maksim Kerendahan Hati .......................................................................... 9
3.2 Maksim Berskala Satu Kutub ......................................................................... 9
3.2.1 Maksim Kecocokan ..................................................................................... 9
3.2.2 Maksim Kesimpatian ................................................................................... 10
4. Parameter Pragmatik ........................................................................................ 11
4.1 Jarak Sosial ..................................................................................................... 12
4.2 Jarak Sosial ..................................................................................................... 12
4.3 Peringkat Tindak Tutur ................................................................................... 12
5. Penutup ............................................................................................................. 13

Daftar Pustaka ..................................................................................................... 14





1. Pendahuluan

Berbahasa adalah aktivitas sosial. Karenanya kegiatan berbahasa baru terwujud bila melibatkan manusia. Menurut Wijana (1996:45), “Di dalam berbicara, penutur dan lawan tutur sama-sama menyadari bahwa ada kaidah-kaidah yang mengatur tindakannya, penggunaan bahasanya, dan interpretasi-interpretasinya terhadap tindakan dan ucapan lawan tuturnya.”

Allan (dalam Wijana:1996:45) menambahkan bahwa, “Setiap peserta tindak tutur bertanggung jawab terhadap tindakan dan penyimpangan terhadap kaidah kebahasaan di dalam interaksi lingual.”

Dalam berbicara, tidak selamanya berkaitan dengan masalah yang bersifat tekstual. Tetapi seringkali pula berhubungan dengan persoalan yang bersifat interpersonal.

Bila sebagai retorika tekstual, pragmatik membutuhkan prinsip kerjasama (cooperative principle). Dalam komunikasi yang wajar, seorang penutur mengartikulasikan ujaran untuk mengomunikasikan sesuatu kepada lawan bicara dan berharap lawan bicaranya dapat memahami apa yang disampaikan.

Pertuturan yang wajar terbentuk karena penutur dan lawan tutur melakukan kerjasama. Setiap peserta pertuturan sama-sama menyadari bahwa ada kaidah-kaidah yang mengatur tindakannya, penggunaan bahasanya dan interpretasi-interpretasinya terhadap tindakan dan ucapan lawan tuturnya.

Lebih tegas lagi, dipaparkan Wijana (1996:46) bahwa ada semacam prinsip kerjasama yang harus dilakukan pembicara dan lawan bicara agar proses komunikasi itu berjalan lancar.

Sementara sebagai retorika personal, menurut Wijaya (1996:55), pragmatik membutuhkan prinsip kesopanan. Prinsip ini, berkaitan dengan diri sendiri dan orang lain. Penutur harus menyusun tuturannya sedemikian rupa agar lawan tuturnya sebagai individu merasa diperlakukan secara santun.

Prinsip kesopanan diterapkan dalam tindak tutur sesuai beberapa indikator. Karenanya, diperlukan strategi pemilihan tingkat kesopanan yang berbeda-beda. Inilah yang disebut dengan parameter pragmatik. Wijana (1996:63) memberikan contoh bahwa dalam memerintah pembantu, tuturan yang dipilih adalah Sapulah lantai ini, meskipun dinilai kurang sopan dibanding Apakah Anda bersedia menyapu lantai ini?

Berdasarkan hal-hal di atas, dalam makalah ini penulis mencoba membahas persoalan yang berkaitan dengan prinsip kerjasama, prinsip kesopanan, dan parameter pragmatik.

2. Prinsip Kerjasama

Di dalam komunikasi yang wajar seorang penutur mengartikulasikan ujaran dengan maksud untuk mengkomunikasikan sesuatu kepada lawan bicara dan berharap lawan bicaranya dapat memahami apa yang hendak dikomunikasikan itu. Untuk itu, penutur selalu berusaha agar tuntutannya selalu relevan dengan konteks, jelas, dan mudah dipahami, padat dan ringkas (concise) dan selalu pada persoalan (stright forwarad) sehingga tidak menghabiskan waktu lawan bicaranya saja.

Tuturan Tolong! Dan Dapatkah Anda Menolong saya? Dapat dipergunakan untuk situasi dan keperluan yang berbeda. Untuk keadaan darurat, misalnya seseorang yang sedang berusaha menyelamatkan diri karena akan tenggelam, tentu akan memilih bentuk ujaran pertama. Tetapi bila situasinya tidak begitu mendesak, tentu yang dipilih adalah ujaran kedua.

Akan sangat aneh kalau seseorang yang akan tenggelam di kolam renang meminta bantuan dengan menggunakan ujaran kedua. Begitupun sebaliknya, seseorang yang yang memohon bantuan tidak selayaknya mengucapkan ujaran pertama dengan suara dan intonasi yang sama. Bila terjadi penyimpangan, ada implikasi-implikasi tertentu yang hendak dicapai penutur. Kalau implikasi itu tidak ada maka penutur yang bersangkutan tidak melaksanakan kerjasama atau tidak bersifat kooperatif.

Atau secara ringkas, Wijana (1996:46) menyimpulkan bahwa ada semacam prinsip kerjasama yang harus dilakukan pembicara dan lawan bicara agar proses komunikasi itu berjalan secara lancar.

Grice dalam Wijana mengemukakan bahwa dalam melaksanakan prinsip kerjasasama, ada empat maksim percakapan (conversational maxim) yang harus dipatuhi. Yakni maksim kuantitas (maxim of quantity), maksim kualitas (maxim of quality), maksim elevansi (maxim of relevance), dan maksim pelaksanaan (maxim of manner). Maksim, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), (2003:704) diartikan, “Pernyataan ringkas yang mengandung ajaran atau kebenaran unum tentang sifat manusia.....”.

2.1 Maksim Kuantitas

Maksim kuantitas menghendaki setiap peserta pertuturan memberikan kontribusi yang secukupnya atau sebanyak yang dibutuhkan oleh lawan bicaranya

Penutur akan memilih kalimat: Tetangga saya hamil, dibandingkan Tetangga saya yang perempuan hamil. Pada tuturan kedua, penggunaan yang perempuan sifatnya berlebih-lebihan. Kalimat pertama, lebih ringkas dan tidak menyimpangkan nilai kebenaran (truth value). Semua orang tentu sudah tahu bahwa hanya wanitalah yang mungkin hamil.

Contoh lain, dapat dilihat pada dialog berikut ini.
Pertama:
+ Siapa namamu?
-Ani
+Rumahmu dimana?
-Klaten, tepatnya di Pedan
+Sudah bekerja?
-Belum, masih mencari-cari

Kedua:
+Siapa namamu?
-Ani, rumah saya di Klaten, tepatnya Pedan. Saya belum bekerja. Sekarang saya masih mencari pekerjaan. Saya anak bungsu dari lima bersaudara. Saya pernah kuliah di UGM, karena tidak ada biaya, saya berhenti kuliah.

Pola tuturan pada dialog pertama bersifat ringkas. Memberikan kontribusi yang secara kuantitas memadai, atau mencukupi pada setiap tahapan komunikasi. Sementara pada dialog kedua tidak kooperatif karena memberikan kontribusi yang berlebih-lebihan. Karena informasi tersebut belum dibutuhkan pada tahap itu.

Berbeda kalau pertanyaan yang diajukan Coba ceritakan siapa kamu! Dalam konteks wawancara untuk melamar suatu pekerjaan, misalnya, maka jawaban tersebut bersifat kooperatif. Dan jawaban pada kalimat pertama tidak kooperatif karena tidak memadai dibandingkan apa yang dibutuhkan pewawancaranya.

Bagaimana maksim kuantitas ini sesungguhnya, Grice (dalam Wijana, 1996:52) membuat analogi. Jika Anda membantu saya memperbaiki mobil, saya mengharapkan kontribusi Anda tidak lebih atau tidak kurang dari apa yang saya butuhkan. Misalnya, jika pada tahap tertentu saya membutuhkan empat obeng, saya mengharapkan Anda mengambilkan saya empat obeng bukannya dua atau enam.

2.2 Maksim Kualitas

Maksim ini mewajibkan setiap peserta percakapan mengatakan hal yang sebenarnya. Kontribusi peserta percakapan hendaknya didasarkan pada bukti-bukti yang memadai. Misalnya seseorang harus mengatakan bahwa ibukota Indonesia Jakara, bukan kota-kota yang lain. Kecuali kalau benar-benar tidak tahu. Bila terjadi sebaliknya, tentu ada alasan mengapa hal demikian terjadi.

Contoh:
Guru: Coba kamu Andi, apa ibukota Bali?
Andi: Surabaya, Pak guru.
Guru: Bagus, kalau begitu ibukota Jawa Timur Denpasar ya?

Dalam wacana di atas tampak guru memberikan kontribusi yang melanggar maksim kualitas. Guru mengatakan ibukota Jawa Timur Denpasar bukan Surabaya. Jawaban in diutarakan sebagai reaksi terhadap jawaban Andi yang salah. Dengan jawaban ini sang murid sebagai individu yang memiliki kompetensi komunikatif (communicative competence) kemudian secara serta merta mencari jawaban mengapa gurunya membuat pernyataan yang salah. Kata bagus yang diucapkan gurunya tidak konvensional karena tidak digunakan seperti biasanya untuk memuji, sebaliknya untuk mengejek.
Atau pada wacana lainnya, pelanggaran maksim kualitas ditujukan untuk mendapatkan efek lucu (comic effect).
+ Ini sate ayam atau kambing.
- Ayam berkepala kambing.

Untuk lebih memudahkan memahami maksim kualitas, Grice (dalam Wijana, 1996:52) membuat analogi. Menurutnya, “Saya mengharapkan kontribusi Anda sungguh-sungguh, bukan sebaliknya. Jika saya membutuhkan gula sebagai bahan adonan kue, saya tidak mengharapkan Anda memberi saya garam. Jika saya membutuhkan sendok, saya tidak mengharapkan Anda mengambilkan sendok-sendokan atau sendok karet.”

2.3 Maksim Relevansi
Maksim relevansi mengharuskan setiap peserta percakapan memberikamn kontribusi yang reklevan dengan masalah pembicaraan.
Contoh:
+ Ani, ada telepon untuk kamu.
- Saya lagi di belakang, Bu.

Atau
+ Pukul berapa sekarang, Bu.
- Tukang koran baru lewat.
Jawaban dalam wacana di atas sepintas tidak berhubungan, tetapi bila dicermati
, hubungan implikasinya dapat diterangkan. Jawaban pada wacana pertama mengimplikasikan bahwa saat itu ia tidak dapat menerima telepon itu secara lamngsung. Secara tidak langsung menyuruh/meminta tolong agar ibunya menerima telepon itu.
Begitu juga dengan wacana kedua, secara eksplisit tidak menjawab pertanyaan yang diajukan. Tetapi dengan memperhatikan kebiasaan tukang koran mengantarkan surat kabar atau majalah kepada mereka, dapat diketahui inferensi pukul berapa ketika itu. Penutur dan lawan tutur memiliki asumsi yang sama sehingga hanya dengan mengatakan Tukang koran baru lewat, dianggap sudah menjawab pertanyaan yang diajukan.

Kedua contoh itu mengisyaratkan bahwa kontribusi peserta tindak tutur relevansinya tidak selalu pada makna ujarannya, tetapi memungkinkan pula pada ada yang diimplikasikan ujaran itu.
Berbeda dengan wacana berikut ini.

+ Pak ada tabrakan motor lawan truk di pertigaan depan.
- Yang menang apa hadiahnya
Tidak selayaknya seorang ayah mempersamakan peristiwa kecelakaan dengan sebuah pertandingan atau kejuaraan. Dalam kecelakaan tidak ada pemenang dan tidak ada pula pihak yang menerima hadiah.Semua pihak akan menderita kerugian bahkan kemungkinan salah satu atau kedua pihak meninggal dunia. Kecuali untuk melucu, hubungan dalam wacana di atas tidak hubungan implikasinya.

Untuk maksim relevansi, Grice (dalam Wijana, 1996:52) membuat analogi sebagai berikut. Saya mengharapkan kontribusi teman kerja saya sesuai dengan apa yang saya butuhkan pada setiap tahapan transaksi. Jika saya mencampur bahan-bahan adonan kue, saya tidak mengharapkan diberikan buku yang bagus, atau bahkan kain oven walaupun benda terakhir ini saya butuhkan pada tahap berikutnya.

2.4 Maksim Pelaksanaan

Maksim pelaksanaan mengharuskan setiap peserta percakapan berbicara secara langsung, tidak kabur, tidak taksa, dan tidak berlebihan serta runtut.
Dalam hal ini Parker (dalam Wijana, 1996:50) memberikan contoh:
+ Lets stop and get something to eat.
- Okay, but not M-C-D-O-N-A-L-D-S.

Dalam contoh di atas pertanyaan dijawab secara tidak langsung dengan mengeja satu per satu kata Mc Donalds. Penyimpangan dilakukan karena ia tidak menginginkan anaknya yang sangat menggemari makanan itu mengetahui maksudnya. Anak-anak dalam batas umur tertentu memang akan kesulitan atau tidak mampu menangkap makna kata yang dieja hurufnya satu per satu.

Contoh lain, orang tua biasanya melakukan hal yang sama kalau anaknya meminta barang mainan yang mahal saat berbelanja di toko swalayan. Dimaksudkan untuk mengecoh anaknya. Seorang ibu sering mengucapkan tuturan:

Nanti kalau di Gardena jangan lewat di tempat b-o-n-e-k-a ya!

Seorang penutur juga harus menafsirkan kata-kata yang digunakan lawan bicaranya secara taksa (ambigu) berdasarkan konteksnya.
Contoh:
+ Masak Peru ibukotanya Lima... Banyak amat
- Bukan jumlahnya, tetapi namanya.

+ Saya ini pemain gitar solo
- Kebetulan saya orang solo. Coba hibur saya dengan lagu-lagu daerah Solo.

Bila konteks pemakaian dicermati, kata lima yang diucapkan tidak mungki ditafsirkan atau diberi makna nama bilangan. Dan solo yang bermakna tunggal juga tidak akan ditafsirkan nama kota di Jawa Tengah. Karena menurut Wijana (1996:50) dalam pragmatik konsep ketaksaan (ambigu) tidak dikenal.

Maksim pelaksanaan juga mengharuskan para peserta pertuturan berbicara secara runtut.
Contoh:
Margie was crying. Her ballon had burst after hitting a branch. The wind had carried into a tree. It had suddenly caught in, though she’d been holding tightly onto it. It was Sunday, and her father had bought her e beautiful news ballon.

Wacana di atas, dinilai tidak runtut. Akan lebih baik kalau menggunakan wacana berikut ini yang jauh lebih logis.

It was Sunday, and her father had bought her a beautiful new ballon. It had suddenly caught it, thought she’d been holding tightly onto it. The windf had carried it into a tree. Her ballon had burst after hitting a branch. Margie was crying.

Untuk maksim pelaksanaan/cara, Grice (dalam Wijana, 1996:53) menganalogikan sebagai berikut. Saya mengharapkan teman kerja saya memahami kontribusi yang harus dilakukannya dan melaksanakannya secara rasional.

3. Prinsip Kesopanan

Sebagai retorika interpersonal pragmatik membutuhkan prinsip kesopanan. Prinsip kesopanan ini menurut Wijana 91996:55) berhubungan dengan dua peserta percakapan yakni diri sendiri (self) dan orang lain (other). Diri sendiri adalah penutur, dan orang lain adalah lawan tutur dan orang ketiga yanfg dibicarakan penutur dan lawan tutur.
Sebagai anggota masyarakat bahasa, penutur tidak hanya terikat pada hal-hal yang bersifat tekstual, yakni bagaimana membuat tuturan yang mudah dipahami oleh lawan tuturnya, tetapi juga terikat pada aspek-aspek yang bersifat interpersonal. Untuk itu, penurut harus menyusun tuturannya sedemikian rupa agar lawan tuturnya sebagai individu merasa diperlakukan secara santun. Teori kesopanan Leech dengan berbagai maksimnya memberikan tuntunan tentang cara-cara bertutur secara sopan.

Maksim dalam prinsip kesopanan terbagi dua yakni maksim berskala dua kutub
(bipolar scale maxim) dan maksim yang berskala satu kutub (unipolar scale maxim).

Dalam prinsip kesopanan, digunakan bentuk-bentuk ujaran dalam mengekspresikan kesopanan. Yakni bentuk ujaran impositif, komisif, ekspresif, dan asertif. Ujaran impositif adalah ujaran yang digunakan untuk menyatakan perintah atau suruhan. Ujaran komisif, berfungsi menyatakan janji atau penawaran. Ujaran ekspresif, digunakan untuk menyatakan sikap psikologis pembicara terhadap sesuatu keadaan. Ujaran asertif, lazim digunakan untuk menyatakan kebenaran proposisi yang diungkapkan.

3.1 Maksim Berskala Dua Kutub

Maksim ini adalah yang berhubungan keuntungan atau kerugian diri sendiri dan orang lain (bipolar scale maxim). Maksim ini terbagi dua. Pertama, maksim yang berpusat pada orang lain (other centred maxim), terdiri dari maksim kebijaksanaan dan kemurahan. Kedua, maksim yang berpusat pada diri sendiri (self centred maxim).
Terdiri dari maksim penerimaan dan maksim kerendahan hati.

3.1.1 Maksim Kebijaksanaan

Maksim ini diungkapkan dengan tutuan impositif dan komisif. Menggariskan peserta tutur untuk meminimalkan kerugian orang lain atau memaksimalkan keuntungan bagi orang lain.

Leech (dalam Wijana (1996:56) membuat contoh tuturan yang memiliki tingkatan kesopanan yang berbeda.
- Answer the phone!
- Will you answer the phone?
- Can you answer the phone?
- Would you mind answering the phone?

Atau dalam bahasa Indonesia, Wijana membuat contoh tuturan yang tidak sopan dan sopan.
- Datang ke rumah saya!
- Datanglah ke rumah saya!
- Silakan (Anda) datang ke rumah saya!
- Sudilah kiranya (Anda) datang ke rumah saya.
- Kalau tidak keberatan, sudilah kiranya (Anda) datang ke rumah saya.


Semakin panjang tuturan seseorang semakin besar pula keinginan orang itu untuk bersikap sopan keopada lawan bicaranya. Demikian pula tuturan yang diutrakan secara tidak langsung lebih sopan dibandingkan yang diutarakan secara langsung. Memerintah dengan kalimat berita atau kalimat tanya dipandang lebih sopan dibanding dengan kalimat perintah.

Bila dalam berbicara penutur berusaha memaksimalkan keuntungan orang lain, maka lawan bicara wajib pula memaksimalkan kerugian dirinya. Ini lazim disebut paradoks paragmatik (pragmatic paradox).

Bandingkan dua wacana di bawah ini. Yang pertama mematuhi paradoks pragmatik, sementara yang kedua melanggar.

+ Mari saya bawakan tas Anda.
- Jangan, tidak usah.
+ Mari saya bawakan tas Anda.
- Ini, begitu dong jadi teman.

3.1.2 Maksim Penerimaan

Maksim ini diutarakan dengan komisif dan impositif. Mewajibkan setiap peserta tindak tutur untuk memaksimalkan kerugian bagi diri sendiri dan meminimalkan keuntungan diri sendiri.

Contoh maksim yang dinilai kurang sopan karena penutur berusaha memaksimalkan keuntungan dirinya dengan menyusahkan orang lain.
- Anda harus meminjami saya mobil.
- Saya akan datang ke rumahmu untuk makan siang.

Sementara berikut ini contoh kalimat berikut berusaha meminimalkan kerugian orang lain dan memaksimalkan kerugian diri sendiri.
- Saya akan meminjami Anda mobil.
- Saya akan mengundangmu ke rumah untuk makan malam.

3.1.3 Maksim Kemurahan

Maksim kerendahan hati diutarakan dengan kalimat ekspresif dan kalimat asertif. Dengan demikian jelaslah bahwa tidak hanya dalam menyuruh dan menawarkan sesuatu seseorang harus berlaku sopan, tetapi di dalam mengungkapkan perasaan dan menyatakan pendapat pun harus sopan.

Maksim kemurahan menuntut setiap peserta pertuturan memaksimalkan rasa hormat kepada orang lain dan meminimalkan rasa tidak hormat.

Maksim kemurahan ini terlihat pada wacana berikut, dimana penutur bersikap sopan dengan memaksimalkan keuntungan lawan tuturnya dan lawan tuturnya menerapkan paradoks pragmatik dengan berusaha meminimalkan penghargaan diri sendiri.
+ Permainanmu sangat bagus.
- Tidak, saya kira biasa-biasa saja.

Berbeda dengan wacana berikut ini, dimana lawan tutur berusaha memaksimalkan keuntungan diri sendiri dengan melanggar paradakos pragmatik sehingga dikategorikan tidak berlaku sopan.
+ Permainanmu sangat bagus.
- Jelas, siapa dulu yang main.

Berikut beberapa contoh kalimat dari yang termasuk tidak sopan hingga sopan.
- Masakanmu tidak enak.
- Masakanmu kurang enak.
- Masakanmu sungguh enak.

3.1.4 Maksim Kerendahan Hati

Maksim kerendahan hati diungkapkan dengan kalaimat ekspresif dan asertif. Bedanya, maksim ini berpusat pada diri sendiri. Sementara maksim kemurahan berpusat pada orang lain. Maksim ini menuntut peserta pertuturan memaksimalkan ketidakhormatan pada diri sendiri dan meminimalkan rasa hormat pada diri sendiri.
Contoh:
+ Betapa pandainya orang itu.
- Betul, dia memang pandai
+ Kau sangat pandai.
- Ya, saya memang pandai. (melanggar maksim kesopanan)
+Kau sangat pandai.
- Tidak, biasa saja. Itu hanya kebetulan. (memaksimalkan ketidakhormatan diri sendiri dan meminimalkan rasa hormat pada diri sendiri)

3.2. Maksim Berskala Satu Kutub

Maksim ini adalah yang berhubungan dengan penilaian buruk baik penutur terhadap dirinya sendiri atau orang lain.

3.2.1 Maksim Kecocokan

Maksim ini diungkapkan dengan kalimat ekspresif dan asertif. Maksim ini menggariskan setiap penutur dan lawan tutur untuk memaksimalkan kecocokan di antara mereka dan meminimalkan ketidakcocokan diantara mereka.
Contoh:
+ Bahasa Inggris sukar ya?
- Ya.
+ Bahasa Inggris sukar, ya?
- Siapa bilang, mudah kok.

Contoh pertama sopan, sementara contoh kedua tidak sopan karena memaksimalkan ketidakcocokan. Memang tidak selamanya senantiasa setuju dengan pendapat atau pernyataan lawan tutur. Namun, bisa dengan membuat pernyataan ketidaksetujuan atau ketidakcocokan partial (partial agreement) yang lebih sopan.
Contoh:
+ Bahasa Inggris sukar, ya?
- Ya, tetapi tata bahasanya tidak begitu sukar dipelajari.
+ Drama itu bagus, ya?
- Ya, tetapi blocking pemainnya masih banyak kekurangan.

3.2.2 Maksim Kesimpatian

Maksim ini diungkapkan dengan tuturan asertif dan ekspresif. Maksim ini mengharuskan setiap peserta pertuturan memaksimalkan rasa simpati dan meminimalkan rasa antipati kepada lawan tuturnya. Jika lawan tutur mendapat kesuksesan atau kebahagiaan, penutur wajib memberikan ucapan selamat. Bila lawan tutur mendapat kesusahan atau musibah, penurut layak turut berduka atau mengutarakan ucapan belasungkawa sebagai tanda simpati.
Contoh:
+ Aku lolos di UMPTN, Jon.
- Selamat, ya!
+ Bibi baru-baru ini sudah tidak ada.
- Oh, aku turut berduka cita.
+ Aku gagal di UMPTN.
- Jangan sedih. Banyak orang yang seperti kamu.
+ Bibi baru-baru ini sudah tiada.
- Ikhlaskan saja, mungkin sudah takdir, Jon.

Bandingkan dengan contoh berikut yang melanggar maksim kesimpatian.
+ Aku gagal di UMPTN.
- Wah, pintar kamu. Selamat ya!
+Bibi baru-baru ini sudah tidak ada.
- Aku ikut senang, Jon.


4. Parameter Pragmatik

Memperlakukan lawan tutur secara wajar dilakukan dengan semena-mena. Strategi pemilihan bentuk tuturan yang memiliki tingkat kesopanan yang berbeda-beda lawan tutur tidak kehilangan muka atau agar tuturan itu tidak menimbulkan muka negatif, selalu dilakukan dengan mempertimbangkan parameter-parameter pragmatik. Terdiri dari parameter jarak sosial, paramater status sosial, dan paramater peringkat tindak tutur.

Misalnya tuturan Apakah Anda bersedia menyapu lantai ini? Tidak akan dipilih tuan rumah untuk menyuruh pembantunya. Dia akan lebih senang menggunakan Sapulah lantai ini, yang bentuknya mungkin kurang sopan. Justru pemilihan bentuk yang lebih panjang dalam hal ini tidak mengenakkan pembantunya.

Hal-hal yang mengatur strategi pemilihan bentuk-bentuk yang memiliki tingkat kesopanan yang berbeda ini disebut parameter pragmatik (pragmatic parameter). Dalam penggunaannya, parameter pragmatik ini harus digunakan secara cermat agar lawan tutur tidak kehilangan muka (face).

Goffman (dalam Wijana 1996: 1986:63) mengemukakan “dalam percakapan yang kooperatif para peserta percakapan menerima ‘muka’ yang ditawarkan oleh lawan bicaranya.”

Muka dalam hal ini adalah citra diri (self image) yang harus diperhatikan oleh lawan tutur. Muka itu berbea-beda, bergantung pada situasi pembicaraan. Buisa sebagai teman dekat, guru. Pada kesempatan lain, berupa kegembiraan, dan suatu saat berupa kemarahan, ataupun kesedihan.

Jadi, peserta pertuturan harus menafsirkan dan mehamai kata-kata yang diutarakan lawan tuturnya sesuai dengan ‘muka’ yang ditawarkannya.

Laver dan Trudgill (1979) menyamakan ‘muka’ ini dengan keadaan afektif (affective state) dan profil identitas (profil of identity) penutur. Lawan tutur harus menafsirkan wajah yang ditawarkan kepadanya.

Muka yang ditawarkan penutur memiliki dua kemungkinan, muka positif (positive face) dan muka negatif (negative face). Muka positif terwujud bila ide-ide, atribut, milik, prestasi, tujuan dan sebagainya yang dimiliki seseorang dihargai oleh lawan tutur. Muka negatif adalah keinginan seseorang untuk tidak diserang, diejek, atau dihinakan oleh lawan tuturnya.

Dalam konteks pemakaian bahasa, dua aspek ini dapat menimbulkan sesuatu yang tidak mengenakkan bila pemuasan salah satu aspek mengandung pelanggaran terhadap yang lain. Seorang pembantu akan merasa risih bila majikannya berkata, Bersediakah Anda menyapu lantai kamar ini? Karena wajah possitif yang ditawarkannya tuanya tidak sesuai dengan atribut, prestasi atau milik lawan bicaranya. Begitu pula sebaliknya, seorang siswa tidak bisa menerima pernyataan temannya yang memerintahnya, Bersihkan meja itu, seolah-olah dia adalah pembantu.
Brown dan Levinson (1978) menunjukan secara meyakinkan bahwa penutur mempergunakan srategia linguistik yang berbeda-beda di dalam memperlakukan secara wajar lawan tuturnya. Dalam hal ini, keduanya mengidentifikasi empat strategi dasar.
Yakni strategi 1 kurang sopan. Digunakan kepada teman akrab. Bantu aku.
Strategi 2 agak sopan. Digunakan kepada teman yang tidak (belum) akrab. Hei Heri, apakah kau dapat membantuku?
Strategi 3 sopan. Digunakan kepada orang belum dikenal. Maaf saya mengganggu, dapatkah engkau meminjamiku uang seribu rupiah?
Dan strategi 4, paling sopan. Kepada orang yang berstatus sosial lebih tinggi atau dihormati. Ini sangat terpaksa, tetapi saya sungguh perlu bantuan.
Keempat strategi ini harus dikaitkan dengan tiga parameter pragmatik berikut.

4.1 Jarak Sosial
Tingkat jarak sosial (distance rating) antara penutur dan lawan tutur yang ditentukan berdasarkan parameter perbedaan umur, jenis kelamin, dan latar belakang sosiokultural.

4.2 Status Sosial
Tingkat status sosial (power rating) yang didasarkan atas kedudukan yang asimterik antara penutur dan lawan tutur di dalam konteks pertuturan. Di ruang praktik seorang dokter memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibanding seorang polisi. Akan tetapi, di jalan raya polisi dapat menilangnya bila sang dokter melakukan pelanggaran. Dalam knteks yang terakhir, polisi memiliki status sosial yang lebih tinggi.

4.3 Peringkat Tindak Tutur
Tingkat perangkat tindak tutur (rank rating) yang didasarkan atas kedudukan relatif tindak tutur yang satu dengan tindak tutur yang lain. Misalnya dalam situasi normala meminjam mobil kepada seseorang mungkin dianaggap tidak sopan atau tidak mengenakkan. Tetapi, di dalam situasi yang mendesak semisal mengantar orang sakit keras, tindakan itu wajar-wajar saja.
Kejanggalan akan terjadi bila penutur menerapkan strategi-strategi diatas secara tidak tepat. Bila penutur menggunakan strategi 3 atau 4 kepada teman akrab, maka dia meperlakukan teman akrabnya itu sebagai orang yang belum pernah dikenalnya. Sebaliknya, bila dia menerapkan strategi 1 dan 2 kepada orang yang status sosialnya lebih tinggi, ia memperlakukan lawan tuturnya sebagai teman dekat sehingg ucapannya akan dirasakan sanat merendahkan.
Kenyataan ini menunjukkan bahwa pemakai bahasa harus memilih strategi itu secara jitu. Pemilihan strtaegi yang terlalu tinggi atau terlalu rendah akan membawa akibat yang sama buruknya.

5. Penutup

Ada semacam prinsip kerjasama yang harus dilakukan pembicara dan lawan bicara agar proses komunikasi itu berjalan secara lancar. Dalam melaksanakan prinsip kerjasasama, ada empat maksim percakapan (conversational maxim) yang harus dipatuhi. Yakni maksim kuantitas (maxim of quantity), maksim kualitas (maxim of quality), maksim relevansi (maxim of relevance), dan maksim pelaksanaan (maxim of manner).
Sebagai anggota masyarakat bahasa, penutur tidak hanya terikat pada hal-hal yang bersifat tekstual, yakni bagaimana membuat tuturan yang mudah dipahami oleh lawan tuturnya, tetapi juga terikat pada aspek-aspek yang bersifat interpersonal. Untuk itu, penurut harus menyusun tuturannya sedemikian rupa agar lawan tuturnya sebagai individu merasa diperlakukan secara santun.
Memperlakukan lawan tutur secara wajar dilakukan dengan semena-mena. Strategi pemilihan bentuk tuturan yang memiliki tingkat kesopanan yang berbeda-beda lawan tutur tidak kehilangan muka atau agar tuturan itu tidak menimbulkan muka negatif, selalu dilakukan dengan mempertimbangkan parameter-parameter pragmatik.
Hal-hal yang mengatur strategi pemilihan bentuk-bentuk yang memiliki tingkat kesopanan yang berbeda ini disebut parameter pragmatik (pragmatic parameter). Dalam penggunaannya, parameter pragmatik ini harus digunakan secara cermat agar lawan tutur tidak kehilangan muka (face).














Daftar Pustaka


Alwi, Hasan, dkk. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Cetakan III edisi ke-3. Jakarta: Balai Pustaka.

Grice, HP. 1975. “Logic and Conversation”. Syntac and Semantics, Speech Act 3. New York: Academnic Press.

Nababan, P.W.J. 1987. Ilmu Pragmatik. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Wijana, I Dewa Putu. 1996. Dasar-Dasar Pragmatik. Yogyakarta: Andi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar